Guru Honorer Medan Double Job Untuk Penuhi Kebutuhan Rumah Tangga
Samarinda – Guru honorer di Medan hidup dalam tekanan ekonomi yang kian berat. Gaji minim memaksa mereka ambil pekerjaan sampingan seperti jualan online, ojek daring, atau jaga warung setelah jam sekolah. Kondisi ini bukan sekadar cerita pilu satu-dua orang, melainkan realitas ribuan pendidik swasta dan negeri di ibu kota Sumatera Utara. Penghasilan merea sering tak lebih dari Rp500 ribu per bulan. Inflasi harga sembako naik 6,2% sepanjang 2025 tambah beban, sementara biaya sekolah anak dan cicilan rumah makin membengkak. Mengubah profesi mulia jadi perjuangan harian demi bertahan hidup.
Realitas Gaji Minim yang Bikin Pilu
Seorang guru SD honorer viral baru-baru ini karena bongkar slip gaji Rp66 ribu per bulan dari dana BOS. Setara honor harian Rp2.200 untuk 30 hari mengajar penuh. Kisah ini mewakili mayoritas guru honorer Medan yang bergantung APBD daerah atau BOS sekolah. Rata-rata Rp300-800 ribu bulanan jauh di bawah UMK Sumut Rp3,8 juta. Banyak yang cerita terpaksa potong jam istirahat untuk antar paket Shopee atau Grab malam hari, karena gaji pokok tak cukup beli beras 10 kilo untuk keluarga empat jiwa. Ironi terbesar, mereka tetap ajar dengan semangat meski energi terkuras double job, picu penurunan kualitas pendidikan di sekolah pinggiran.
Data Kementerian Pendidikan Ungkap Ironi Nasib Guru
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) catat ada 1,2 juta guru honorer nasional per 2025. Sebagian guru mendapatkan tunjangan profesi guru (TPG) naik Rp2 juta hanya untuk yang bersertifikasi PPG. Namun, non-sertifikasi seperti kebanyakan di Medan cuma dapat insentif Rp300-500 ribu mulai Mei 2025, dan verifikasi data lambat bikin pencairan molor hingga akhir tahun. Menteri Abdul Mu’ti akui ironi ini dalam rapat koordinasi daerah. Menurutnya, kurikulum merdeka tuntut kompetensi tinggi tapi kesejahteraan stuck, hasilkan turnover guru honorer capai 25% per tahun di Sumut. Data Kemendikbudristek sebut 40% honorer Medan punya gelar S1 tapi tak terserap PNS, terjebak lingkaran gaji rendah yang paksa cari tambahan di luar mengajar.
Janji Presiden Prabowo Belum Sepenuhnya Terwujud
Presiden Prabowo Subianto beri harapan saat pidato Oktober 2025 di Medan, janjikan kenaikan insentif guru honorer Rp400 ribu mulai 2026 plus program PPPK massal 500 ribu kuota nasional dengan prioritas Sumatera Utara. Prabowo tekankan pendidikan investasi bangsa, alokasikan APBN 2026 Rp72 triliun untuk guru termasuk bantuan honorer Rp2,1-6 juta per provinsi seperti disetujui Menteri Keuangan Sri Mulyani. Meski demikian, realisasi 2025 masih mandek karena anggaran terbatas, bikin guru honorer Medan tetap andalkan double job sementara tunggu kebijakan nyata. Gubernur Bobby Nasution tambah Rp90 ribu per jam honor lokal, tapi tetap tak nutup defisit bulanan Rp2-3 juta untuk hidup layak.
Dampak Double Job pada Kualitas Mengajar
Double job bukan solusi, malah kuras stamina guru hingga mengajar jadi setengah hati. Sama seperti kasus guru MTs di Medan Utara yang ketiduran kelas gara-gara shift ojek semalam. Orang tua siswa keluhkan penurunan prestasi anak, sementara guru honorer stres kronis picu masalah kesehatan seperti hipertensi yang tambah biaya pengobatan. Fenomena ini sebar luas di sekolah swasta pinggiran Medan, di mana 70% pengajar honorer bagi waktu dengan usaha kecil. Hal ini mengakibatkan absensi tinggi dan kurang persiapan kurikulum merdeka. Tanpa perbaikan struktural, generasi muda Medan berisiko tertinggal kompetitif nasional.
Harapan Solusi dari Pemerintah Pusat dan Daerah
Pemerintah pusat dorong sertifikasi massal PPG untuk akses TPG penuh, sementara Pemprov Sumut usul tambah anggaran APBD 2026 Rp500 miliar khusus guru honorer. Komunitas guru Medan gelar aksi damai tuntut kenaikan minimal Rp1,5 juta bulanan, harap sinergi Prabowo-Bobby wujudkan janji tanpa molor lagi. Guru honorer tak ingin double job jadi norma abadi; mereka butuh gaji layak agar fokus nobelkan generasi penerus, bukan bertahan hidup. Dengan komitmen nyata, Medan bisa jadi contoh kesejahteraan pendidik daerah lain di Indonesia.
Selain kisah pilu tentang keadaan guru honorer, lihat juga perjuangan guru untuk membaca Peluang Usaha Ucok Durian, Ikon Kuliner Medan
[…] Skip to content […]